Atasi Tekanan Dolar, Rupiah Berbalik Menguat di Tutup Dagang

Meski AS di bulan Desember 2016 tidak cukup menggembirakan, hal tersebut ternyata tidak membuat pergerakan the greenback melempem. Untungnya, mampu mengatasi tekanan sehingga menurut Index pukul 15.59 WIB, mata uang Garuda ditutup menguat 9 poin atau 0,07% ke level Rp13.362 per dolar AS.

Rupiah mengawali hari ini (9/1) dengan 17 poin atau 0,13% ke posisi Rp13.388 per dolar AS. Istirahat siang, mata uang Garuda kembali 8 poin atau 0,06% ke Rp13.379 per dolar AS. Jelang penutupan atau pukul 15.52 WIB, spot mampu berbalik menguat 9 poin atau 0,07% ke posisi Rp13.362 per dolar AS yang bertahan hingga akhir transaksi.

Akhir pekan kemarin, laporan data non-farm payroll AS bulan Desember 2016 menunjukkan penyerapan tenaga kerja sebanyak 156.000, lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya di angka 204.000. Sementara, tingkat di Negeri Paman Sam meningkat menjadi 4,7% dari bulan sebelumnya di angka 4,6%.

Namun, data tenaga kerja AS yang tidak lebih baik ini ternyata tak berpengaruh negatif terhadap pergerakan dolar AS. Setelah dibuka di zona hijau, pergerakan the greenback kembali menguat 0,03% ke level 102,25 pada pukul 10.13 WIB. “Meski data tidak menggembirakan, pasar tenaga kerja AS masih dianggap relatif kuat sehingga mendorong kenaikan dolar AS,” jelas Analis PT Waterfront Securities Indonesia, Octavianus Marbun.

Untungnya, penguatan dolar AS mampu diimbangi rupiah, salah satunya berkat sejumlah ketidakpastian, terutama mengenai realisasi janji Donald Trump terhadap beberapa kebijakan AS serta terkait hubungan dagang AS-Tiongkok. “Sejumlah mata uang, termasuk rupiah, dapat memanfaatkan kondisi tersebut untuk bergerak menguat,” kata Analis Senior Bina Artha Securities, Reza Priyambada.

Sementara itu, siang tadi Bank Indonesia menetapkan kurs tengah berada di level Rp13.385 per dolar AS, melemah 38 poin atau 0,28% dibandingkan perdagangan sebelumnya di posisi Rp13.347 per dolar AS. Di saat yang sama, hampir seluruh mata uang Asia bergerak melemah terhadap dolar AS, dengan pelemahan terdalam dialami won Korea Selatan sebesar 1,11%, disusul dolar Taiwan dengan 0,41%, dan yen Jepang yang turun 0,31%.

Loading...