Asia Tenggara Kehilangan Peluang Mengembangkan Energi Terbarukan

Pemerintah Asia Tenggara harus meninjau kebijakan mereka untuk memobilisasi investasi swasta di energi terbarukan. Badan energi internasional telah memproyeksikan World Energy Investment Outlook yang memerlukan sekitar USD 7,7 triliun untuk energi terbarukan dan proyek efisiensi energi di China, India, Jepang, dan Asia Tenggara pada 2035 untuk menjaga kenaikan suhu di bawah 2C abad ini.

Seiring dengan peningkatan jumlahnya, keinginan investor untuk menanamkan pun juga tinggi. Penerbitan global telah tumbuh dari USD 41 miliar pada 2015 menjadi antara USD 55 miliar dan USD 80 miliar pada 2016, dengan eksponensial di Asia yang sebagian besar ada di China. Di samping itu, instansi pemerintah dan bank komersial telah membatasi pendanaan untuk proyek-proyek listrik karbon-intensif untuk mengarahkan dukungan ke proyek-proyek energi terbarukan.

Meski energi terbarukan memiliki potensi yang cukup besar di negara-negara Asia Tenggara, tetap saja salah satu hambatan utamanya adalah . Energi terbarukan di Asia Tenggara juga harus bersaing dengan komoditas yang lemah dan subsidi berat untuk bahan bakar fosil di belakang pertumbuhan ekonomi global yang lambat.

Untuk mendorong investasi dalam proyek energi terbarukan, banyak negara di Asia Tenggara memperkenalkan subsidi selama satu dekade terakhir dalam bentuk pembayaran yang lebih tinggi dan tambahan untuk listrik dari sumber terbarukan, yang disebut sebagai tarif feed-in.

Program energi surya Indonesia baru akan memerlukan alokasi surya untuk pengembang dengan tarif 14,5 sen AS menjadi 25 sen AS per kWh, tergantung dari lokasi masing-masing proyek. Alokasi pertama akan memakai 250 mW untuk berbagai wilayah Indonesia. Dengan tarif feed-in harga pada tingkat yang terjangkau, para pengembang bersiap untuk memperoleh kesempatan.

Namun ada beberapa masalah yang menghambat pengembangan energi terbarukan di Indonesia. Selain harga, ada pula proses perizinan yang panjang dari berbagai badan pemerintah. Sistem persetujuan baru yang diperkenalkan di Indonesia ditujukan untuk mendorong peningkatan tajam dalam investasi di energi terbarukan selama 12 bulan terakhir.

Kepastian pengembalian investasi juga menjadi hal menantang bagi investor internasional, di mana pembayaran untuk pembangkit listrik menggunakan lokal tanpa indeksasi untuk cadangan.

Loading...