AS Peringatkan Serangan Cyber dari Korea Utara Bakal Lebih Masif

Department of Homeland Security analysts - www.straitstimes.comDepartment of Homeland Security analysts - www.straitstimes.com

WASHINGTON/TORONTO – Selasa (13/6) kemarin, AS mengeluarkan sebuah pernyataan yang menyebutkan bahwa Korea Utara sebagai dalang di balik serangkaian serangan cyber dan memperingatkan bahwa serangan kemungkinan akan terjadi lebih besar pada tahun-tahun mendatang, demikian laporan yang ditulis oleh Reuters. Paman Sam menyebut, pelaku cyber Korea Utara telah menargetkan sektor media, dirgantara, , serta kritis di AS dan seluruh .

Rincian analisis pemerintah AS, dalam hal ini oleh United States Department of Homeland Security dan The Federal Bureau of Investigation, bertepatan dengan meningkatnya ketegangan antara Washington dan Pyongyang karena uji coba rudal Korea Utara. Para pelaku serangan cyber, yang disebut sebagai ‘Hidden Cobra’, dikatakan akan melakukan operasi untuk mendukung tujuan dan strategis Korea Utara.

Paman Sam mengatakan bahwa Hidden Cobra sebelumnya telah disebut oleh para ahli berasal dari sektor swasta, seperti Lazarus Group dan Guardians of the Peace, yang dikaitkan dengan serangan ke Sony Corp Sony Pictures Entertainment pada tahun 2014 lalu. Sementara itu, Symantec Corp dan Kaspersky Lab pada bulan lalu mengatakan bahwa ‘sangat mungkin’ Lazarus berada di balik serangan virus ransomware WannaCry yang menginfeksi lebih dari 300.000 komputer di seluruh dunia, sekaligus mengganggu operasi di rumah sakit, bank, dan sekolah.

Sayangnya, lansiran tersebut tidak mengidentifikasi korban Hidden Cobra secara spesifik. Laporan ini hanya menulis bahwa kelompok tersebut telah membahayakan sejumlah korban dan beberapa penyusupan yang mengakibatkan pencurian data. Kemampuan kelompok ini meliputi serangan denial of service, yang mengirim rim sampah ke server untuk mengetuknya secara offline, logging keystroke, alat akses jarak jauh, dan beberapa malware.

kami sangat khawatir dengan serangan cyber yang semakin agresif dari Korea Utara,” ujar John Hultquist, seorang intelijen cyber di FireEye Inc. “Hacks, termasuk spionase cyber, di keuangan, energi, dan transportasi Korea Selatan , yang tampaknya hanya menjadi awal bagi serangan yang lain, menunjukkan bahwa mereka sedang mempersiapkan sesuatu yang signifikan.”

Hidden Cobra biasanya menargetkan komputer yang dijalankan dengan OS Microsoft Corp lama yang tidak lagi menerima update, dan juga menggunakan kerentanan pada perangkat lunak Flash Adobe Systems Inc untuk mendapatkan akses ke komputer yang ditargetkan. Laporan tersebut mendesak organisasi atau perusahaan untuk melakukan upgrade ke terbaru Adobe Flash dan Microsoft Silverlight, atau jika memungkinkan, mencopot pemasangan aplikasi tersebut sama sekali.

Sementara itu, Microsoft memberikan sebuah pernyataan dalam email yang mengatakan bahwa mereka telah ‘menangani’ masalah Silverlight dalam versi pembaruan perangkat lunak pada bulan Januari 2016. Adapun Adobe mengatakan, juga melalui email, bahwa pihaknya telah menambal kerentanan software miliknya pada Juni 2016.

Loading...