AS-Korut Masih Panas, Rupiah Merangkak Naik di Awal Perdagangan

Jakarta mengawali perdagangan pagi hari ini, Rabu (6/9) dengan penguatan sebesar 3 poin atau 0,02 persen ke posisi Rp 13.335 per . Sebelumnya, Selasa (5/9), Garuda berakhir 0,01 persen atau 1 poin ke level Rp 13.338 per dolar usai diperdagangkan pada rentang angka Rp 13.330 hingga Rp 13.342 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama lainnya terpantau melemah 0,24 persen menjadi 92,410 pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB karena tertekan oleh memanasnya kondisi geopolitik antara Amerika Serikat dengan Republik Demokratik Rakyat Korea (DPRK) atau Korea Utara.

Menurut pengumuman dari Central Television Korea Utara, pada Minggu (3/9) Korut meledakkan bom hidrogen yang dapat dibawa rudal balistik antar benua. Karena kondisi tersebut, para pun berbondong-bondong memindahkan harta mereka ke sejumlah mata uang safe haven seperti yen Jepang dan franc Swiss.

Meskipun rupiah menguat, Ekonom Bank Central Asia () David Sumual memprediksi jika rupiah kemungkinan akan melemah tipis pada perdagangan hari ini, Rabu (6/9). Pasalnya sentimen dalam negeri masih minim, sedangkan ketegangan geopolitik masih terus berlanjut.

“Tak hanya itu, pasar juga masih menanti sejumlah data kinerja ekonomi AS seperti pemesanan barang tahan lama dan hasil penjualan ritel kawasan Eropa,” ujar David, seperti dilansir Kontan. Meski akan terpengaruh oleh kondisi geopolitik, David mengatakan bahwa deflasi Agustus akan menjadi sentimen yang positif untuk rupiah.

Senada, Research & Analyst Valbury Asia Sekuritas, Lukman Leong menuturkan, deflasi akibat penurunan lebih baik daripada deflasi karena penurunan daya beli . Dengan demikian sekaligus mengindikasikan bahwa pemerintah mulai menekan lewat operasi pengendalian pasar. “Kalau deflasi terus-menerus baru jadi mengkhawatirkan,” ucap Lukman.

Di samping itu, posisi dolar AS yang loyo di pasar spot juga turut menyumbang dorongan pada rupiah. Apalagi kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) hingga akhir tahun hanya berada pada persentase sekitar 40%.

Loading...