AS-Korea Utara Saling Ancam, Rupiah Anjlok di Akhir Pekan

Mata uang kompak pada akhir pekan (11/8) ini, termasuk , setelah hubungan antara AS dengan Korea Utara kembali memanas, seiring ancaman balik Donald Trump. Menurut catatan Index pukul 15.59 WIB, mata uang Garuda harus menutup hari ini dengan pelemahan sebesar 28 poin atau 0,21% ke level Rp13.361 per AS.

Rupiah sudah drop sejak awal dagang dengan anjlok 37 poin atau 0,28% di posisi Rp13.370 per dolar AS. Istirahat siang, mata uang Garuda kembali sebesar 36 poin atau 0,27% ke level Rp13.369 per dolar AS. Jelang penutupan atau pukul 15.25 WIB, spot masih tertahan di zona merah setelah melemah 17 poin atau 0,13% ke posisi Rp13.350 per dolar AS.

Dari , indeks dolar AS sebenarnya kembali memperpanjang tren pelemahan di tengah kecemasan atas meningkatnya tensi antara Paman Sam dengan Korea Utara. Setelah dibuka dengan kenaikan tipis 0,015 poin atau 0,02% di level 93,416, mata uang greenback berbalik melemah 0,067 poin atau 0,07% ke posisi 93,334 pada pukul 11.14 WIB.

Kamis (10/8) kemarin, Presiden Donald Trump melontarkan retorika kelas baru, menyusul kabar rencana peluncuran rudal oleh Korea Utara ke basis militer AS di Guam. Trump memberi peringatan kepada rezim Kim Jong-un untuk tidak menyentuh wilayah Guam sera menjanjikan reaksi yang dahsyat atas serangan apa pun terhadap AS maupun sekutu-sekutunya.

Pernyataan terkini oleh Trump serta-merta menggetarkan pasar keuangan global yang telah mengalami dampak volatilitas global selama beberapa hari terakhir sekaligus mendorong permintaan aset safe haven, di antaranya yen. “Apa yang berubah kali ini adalah bahwa ancaman menakutkan dan perang kata-kata antara AS dan Korea Utara telah menjadi intensif sampai-sampai pasar tidak dapat mengabaikannya,” kata Kepala Strategi Investasi di AMP Capital, Shane Oliver, seperti dikutip dari Bisnis.

Pasar global saat ini tengah menantikan laporan data inflasi AS terbaru yang bakal diumumkan hari ini waktu setempat, guna mendapatkan petunjuk mengenai kebijakan pengetatan moneter The Fed ke depan. Para investor sendiri memprediksi bakal mulai mengurangi neraca keuangan mereka pada bulan September, dan mungkin kembali menaikkan suku bunga acuan satu kali lagi tahun ini.

“Prospek kami mengantisipasi tren pertumbuhan moderat yang terus berlanjut, dengan beberapa penguatan lanjutan di pasar tenaga kerja dan kenaikan inflasi dalam jangka menengah menuju target sebesar 2,0%,” kata Presiden The Fed New York, William Dudley. “Pertumbuhan ekonomi dan upah moderat tercermin pada sebagian bahwa pertumbuhan produktivitas telah lambat, dibandingkan dengan pengalaman sejarah.”

Loading...