AS Coba Hentikan Negara Dunia Beli Pesawat Komersial China?

Proyek ambisius China untuk menjadi pemain utama dalam pasar pesawat - fortune.comProyek ambisius China untuk menjadi pemain utama dalam pasar pesawat - fortune.com

WASHINGTON/BEIJING – AS sedang mencoba menghentikan ambisius untuk menjadi pemain utama dalam komersial global. Pada 14 Januari 2020, Washington memasukkan Commercial Aircraft Corporation of China (COMAC) dalam perusahaan yang diduga memiliki hubungan dengan Negeri Tirai Bambu.

Dikutip dari TRT World, langkah itu sebenarnya tidak menjadi masalah bagi COMAC karena hanya membatasi AS di perusahaan dan COMAC pun belum mengumpulkan dana di pasar AS. Namun, terdapat risiko bahwa sekarang pesawat dapat ditambahkan ke sesuatu yang disebut daftar entitas, yang mempersulit pemasok Negeri Paman Sam untuk berbisnis dengan COMAC.

Mantan Presiden AS, Donald Trump, telah menggunakan sejumlah langkah, termasuk perang , untuk menekan China, yang ia tuduh melakukan manipulasi mata uang dan mencuri teknologi negaranya. Namun, ‘tembakan perpisahan’ ini bisa menjadi masalah bagi Joe Biden yang telah mengisyaratkan kebijakan luar negeri yang lebih rekonsiliasi. “Mungkin saja Presiden Biden akan meninjau keputusan Trump ini. Perusahaan AS sangat bergantung pada China, sehingga dia harus mempertimbangkan hal ini,” ujar Shukor Yusof, analis penerbangan di Endau Analytics.

Dari mesin dan avionik CFM LEAP-1C General Electric hingga perekam data penerbangan, banyak komponen pesawat COMAC yang berasal dari AS. Satu studi menemukan bahwa 60 persen pesawat China didasarkan pada suku cadang yang diproduksi di AS dan negara anggota Uni Eropa. COMAC sendiri tidak terlalu berhasil dalam memasarkan model pesawatnya di luar China sejak diluncurkan lebih dari satu dekade lalu sebagai bagian dari rencana Beijing untuk membuat barang-barang berteknologi tinggi.

Perusahaan telah menjual sekitar 40 jet regional jarak pendek ARJ21 ke maskapai China seperti Chengdu Airlines. Namun, model C919 yang menjadi pusat perhatian internasional. C919, yang memiliki kamar mandi lebih besar dan ruang yang lebih luas bagi awak kabin untuk memilih makanan, dipasarkan sebagai pesaing Boeing 737 Max dan Airbus A320 Neo. Pesawat ini masih menjalani uji coba penerbangan dan regulator China kemungkinan tidak akan memberikan lampu hijau sampai tahun depan.

Sebuah pesawat komersial China yang belum teruji juga akan menghadapi kesulitan untuk mendapatkan persetujuan dari regulator penerbangan negara Barat yang sudah merasakan panasnya bencana B737 Max. Kecelakaan jet B737 dua tahun yang lalu menunjukkan kekurangan dalam desain pesawat meskipun faktanya pesawat itu dijual ke maskapai penerbangan di seluruh dunia. TransNusa, maskapai penerbangan domestik Indonesia, menjadi satu-satunya maskapai di luar China yang menandatangani kesepakatan dengan COMAC setelah memesan ARJ21 awal bulan Januari 2021.

“COMAC adalah api tempat sampah yang sebenarnya dari sebuah organisasi,” ujar Scott Kennedy, penasihat senior di Pusat Kajian Strategis dan Internasional, dalam sebuah wawancara dengan South China Morning Post. “C919 tidak bisa disebut sebagai pesawat China karena hampir semua bagian yang diperlukan untuk mengudara diimpor. COMAC bahkan tidak mampu seperti Ilyushin, Sukhoi, dan Tupolev, yang memiliki teknologi lebih maju, tetapi masih berjuang secara komersial.”

Seperti ekonomi global, China memimpin pemulihan di pasar penerbangan dunia, demikian menurut catatan Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA). Pada Mei 2020, China menjadi pasar penerbangan tunggal terbesar, mengalahkan AS. Boeing memperkirakan bahwa operator Negeri Panda, seperti China Southern Airlines, akan memesan 8.600 pesawat selama 20 tahun ke depan.

“Pesawat terbang adalah aset yang sangat kompleks dan membutuhkan regulasi yang sangat ketat. China perlu meyakinkan pasar bahwa produknya memiliki standar yang sama atau lebih baik dari Airbus dan Boeing,” tambah Yusof. “Pada akhirnya, maskapai membuat tentang apa yang akan diterbangkan. Kalau merasa calon penumpangnya nyaman terbang dengan pesawat buatan China, dan kalau keekonomian bagus, kenapa tidak?”

Loading...