Ambisi Pimpin Modest Fashion Global, Sederet Tantangan Hadang Indonesia

Modest Fashion - www.washingtonpost.comModest Fashion - www.washingtonpost.com

JAKARTA/NEW YORK – Masuk akal bahwa Indonesia, berpenduduk Muslim terbesar di dunia, akan menjadi dalam industri modest atau tren busana tertutup. Tetapi, perjuangan mencapai ambisi untuk menjadi ibukota mode Muslim dunia dihadapkan dengan beragam tantangan, mulai dari kapasitas yang buruk dan kurangnya profesionalisme, hingga kompetisi yang kuat dari -brand besar luar negeri.

Dilansir Nikkei, The State of the Global Islamic Economy Report 2018/19 oleh Thomson Reuters dan DinarStandard telah menyoroti ‘potensi yang signifikan’ di sektor modest fashion, dengan pengeluaran Muslim untuk busana ini akan tumbuh 5% per tahun menjadi 361 miliar pada 2023. Menurut laporan itu, modest fashion sedang bergerak ke arus utama, dari merek-merek mewah ke toko-toko jalanan. Ritel online dan influencer telah membantu mendorong popularitas tren ini.

Demografi juga menunjukkan bahwa pasar untuk pakaian konservatif akan terus berkembang. Menurut Pew Research Center, sebuah tim fakta yang berbasis di Washington, Muslim adalah kelompok agama besar yang paling cepat berkembang di dunia. Pada tahun 2050, diperkirakan ada 2,76 miliar Muslim di seluruh dunia, membentuk 29,7% dari populasi dunia, naik dari 1,6 miliar pada 2010.

Tetapi, Indonesia harus berjuang keras untuk menembus pasar modest fashion global. Lebih fokus pada sektor domestik, sehingga perhatian terhadap ekspor cenderung kurang, telah menyebabkan Indonesia berkinerja buruk dalam peringkat modest fashion, menurut laporan Thomson Reuters/DinarStandard, yang menghitung sebagian besar negara berdasarkan ekspor di Organisasi Kerjasama Islam, pengelompokan dari 57 negara mayoritas Muslim di empat benua.

Indonesia akhirnya masuk sepuluh besar tahun ini, melompat ke tempat kedua di belakang Uni Emirat Arab, dan mengalahkan Singapura, Malaysia dan Turki. Kehadiran desainer yang lebih rutin di acara-acara , termasuk NYFW, London Fashion Week, dan Modest Fashion Week, ajang dua tahunan yang diluncurkan di Istanbul pada 2016, kemungkinan berkontribusi pada meningkatnya pamor busana asal Indonesia.

Laporan tersebut tidak memberikan data ekspor untuk masing-masing negara. Namun, pengiriman tekstil secara keseluruhan diperkirakan akan naik 13% tahun ini menjadi 15 miliar dolar AS, dan beberapa bukti menunjukkan permintaan untuk produk-produk modest fashion lokal membaik. Orang dalam industri mengatakan, permintaan dari AS, Timur Tengah, dan Eropa membaik. Konsumen tidak hanya Muslim, tetapi termasuk wanita konservatif Yahudi dan Kristen, artis, musisi, dan lain-lain.

Sayangnya, tidak semua orang berpandangan optimistis. Franka Soeria, seorang konsultan modest fashion, mengatakan bahwa desainer Indonesia mungkin menikmati pusat perhatian di acara-acara mode internasional, tetapi mereka sering tidak dapat menindaklanjuti ketika datang pesanan dari pertunjukan. Soeria mengatakan, produk kadang-kadang ditolak karena tidak memenuhi kualitas, dengan pengerjaan yang tidak rapi seperti jahitan yang kurang baik.

“Desainer Indonesia melakukan begitu banyak branding. Satu-satunya masalah adalah kita tidak terlalu fokus pada penjualan. Setelah pertunjukan, kita perlu menindaklanjuti,” kata Soeria, yang juga salah satu pendiri Modest Fashion Week. “Kurangnya kapasitas produksi karena ketidakmampuan desainer Indonesia untuk meningkatkan produksi guna memenuhi permintaan luar negeri yang terus meningkat.”

Ini sangat kontras dengan Turki, pesaing utama bagi konsumen modest fashion dan secara konsisten menempati lima besar dalam peringkat Thomson Reuters/DinarStandard. Industri di sana, menurut Soeria, sangat profesional. Di Turki, desainer memiliki rencana produksi yang dipikirkan dengan matang, bahkan sebelum mereka memutuskan untuk berpartisipasi dalam peragaan busana. Mereka juga didukung oleh pembuat garmen dengan peralatan yang lebih modern dan bersedia memproduksi dalam skala kecil.

“Sektor modest fashion di pasaran global sangat ‘rimba’, karena ini adalah tren yang masih baru, dengan banyak pemain yang tidak berpengalaman, serta mereka yang mencoba memanfaatkannya,” sambung Soeria. “Ada e-commerce yang gagal membayar desainer serta penyelenggara acara tidak etis yang meminta klien untuk membayar dimuka untuk sebuah pertunjukan, kemudian gagal memberikan produknya.”

Di samping itu, tambahnya, fokus khas desainer Indonesia pada pakaian etnis dan warna-warna berani, meskipun dihargai oleh pasar domestik, sering tidak beresonansi dengan pelanggan di negara-negara Timur Tengah yang lebih konservatif, atau dengan mereka yang berada di negara-negara minoritas Muslim. Menurutnya, desainer Indonesia akan jauh lebih baik jika melakukan diversifikasi dari desain yang khas ini.

Persaingan dari merek global menimbulkan tantangan lain bagi desainer Indonesia. Dolce & Gabbana dari Italia, pengecer asal Swedia, H&M, perusahaan pakaian olahraga AS, Nike, rantai pakaian kasual Jepang, Uniqlo, toko serba ada AS, Macy’s, serta peritel Inggris, Marks & Spencer, hanyalah beberapa nama yang memamerkan pakaian yang ditujukan untuk wanita yang ingin menutupi tubuh mereka.

Pemerintah Indonesia sendiri telah berjanji untuk membantu industri modest fashion, sayangnya lambat untuk terlibat. Sebuah rencana untuk mengubah negara ini menjadi ibukota mode Muslim dunia pada tahun 2020 telah mundur ke tahun 2025. Selain mensponsori peragaan modest fashion di Jakarta, baru pada tahun ini para pejabat, melalui Badan Ekonomi Kreatif (BERKRAF), meluncurkan program untuk mendanai industri lokal melalui kemitraan dengan -bank syariah, yang mengikuti prinsip-prinsip hukum Islam.

Loading...