Abaikan Polisi, Nelayan Aceh Jaga Tradisi Selamatkan Pengungsi Rohingya

Pengungsi Rohingya - medium.comPengungsi Rohingya - medium.com

JAKARTA – Minggu terakhir Juni 2020,sebuah perahu yang berisi 94 pengungsi diselamatkan oleh di lepas Pantai Lancok di Aceh. Sementara pihak berwenang sempat melarang mereka melakukan hal tersebut, namun nelayan setempat lebih memilih menyelamatkan pengungsi, berlatar adat yang dilandasi nilai penghormatan terhadap kehidupan manusia dan .

Dilansir dari TRT World, melihat para pengungsi, pihak berwenang Indonesia sebenarnya masih bimbang menentukan apakah akan membiarkan pengungsi ke darat atau mendorong mereka kembali ke laut, sebuah taktik umum yang diterapkan oleh Eropa untuk menjauhkan kapal pengungsi dari pantai mereka. Polisi akhirnya memblokir jalan masuk ke darat. Sesuai laporan lokal, pemerintah meminta para pengungsi untuk kembali ke lautan, sambil menawarkan bakar dan bantuan logistik lainnya.

Namun, para nelayan berusaha keras dan menolak membiarkan hal itu terjadi. Sementara itu, Aceh berkumpul di sekitar perahu dalam jumlah besar. Marah dengan keengganan pihak berwenang untuk membiarkan mereka masuk, mereka mengajukan protes, menuntut polisi untuk menganggap para pengungsi sebagai pendatang yang aman.

Iswadi, warga Aceh berusia 40 tahun, mulai mengumpulkan uang dari penduduk setempat untuk membeli dan lainnya bagi para pengungsi. Mereka berhasil mendapatkan Rp1.000.000. Dengan uang itu, dia dan warga desa lantas membeli beras, roti, dan . Suplai dikirim ke perahu milik Faisal Afrizal, seorang tukang perahu setempat yang pertama kali menyelamatkan pengungsi Rohingya. 

Sebelumnya, Faisal, yang baru saja menangkap ikan seberat 200 kg, melihat perahu rusak sedang berkubang di air. Ketika orang-orang di dalamnya berteriak minta tolong dan membuat gerakan yang seolah-olah mereka meminta untuk minum air, naluri penyelamatnya, dipelihara oleh tradisi laut Indonesia selama berabad-abad, bahwa yang mati atau hidup harus dibawa ke pantai, muncul.

Menurut keterangannya, ia menemukan kru di depan perahu, dengan sekitar 15 jenazah, kebanyakan anak-anak dan perempuan. Ia mendengar mereka (beberapa yang selamat) mengatakan ‘Assalamualaikum’, tetapi tidak dapat memahami sisa kata yang diucapkan oleh mereka. Faisal, yang seorang Muslim, menyimpulkan bahwa para penyintas di kapal itu memiliki keyakinan yang sama. Dia lalu memindahkan para pengungsi dengan kapalnya dan memberi mereka air dan mie instan. 

Hari itu ternyata berat bagi Afrizal. kapalnya rusak dan dia pun menemukan dirinya terdampar di laut. Namun, keberuntungan ada di pihaknya. Sebuah kapal penangkap ikan lewat, dan kapten mereka setuju untuk membantu. Saat kapal yang ramah menarik kapalnya dan membawanya ke pantai, dia menyajikan ikan bakar untuk makan siang.

Penduduk setempat melanjutkan upaya mereka untuk membujuk otoritas yang memimpin agar mengizinkan kelompok yang terdampar itu memasuki negara. Itu sia-sia karena menjelang sore, polisi mulai mengevakuasi pengungsi. Sekitar waktu yang sama, Kementerian Luar Negeri Indonesia merilis pernyataan yang mengatakan mereka akan menyelidiki kemungkinan penyelundupan manusia.

Polisi mencoba memindahkan para pengungsi ke kapal pemerintah, tetapi penduduk desa dengan cepat mencegahnya. Mereka mengirim dua perahu ke laut dan menyeret perahu Faisal ke pantai. Polisi tidak dapat membatalkan langkah tersebut karena penduduk desa dengan cepat memindahkan mereka ke pantai, dengan cepat menempatkan mereka di aula pelelangan ikan.

Penduduk yang menonton dan para pengunjuk rasa bersorak serempak saat melihat Rohingya melangkah ke darat. Mereka tahu para pengungsi tidak akan selamat di hari lain jika Faisal tidak datang untuk menyelamatkan mereka. Upaya Faisal dan sesama nelayan ini dipuji di seluruh negeri karena cerita mereka segera menjadi berita nasional. Banyak politisi memuji mereka karena membela kemanusiaan. Keesokan harinya, UNHCR tiba di aula pelelangan untuk membawa para pengungsi ke kamp.

Peristiwa tersebut mengedepankan pandangan pemerintah Indonesia yang saling bertentangan terhadap tradisi laut, meskipun telah ditetapkan sebagai hukum maritim oleh suatu badan adat bernama Panglima Laot (Panglima Laut). Panglima Laot telah menjadi penjaga laut di Aceh sejak abad ke-17. Sekarang diatur di bawah hukum Islam Aceh. Miftah Cut Adek, Sekretaris Panglima Laot, mengatakan bahwa adat itu dilandasi nilai penghormatan terhadap kehidupan manusia dan lingkungan.

“Setiap orang yang terdampar di laut harus segera dievakuasi. Tidak peduli agamanya, apa pun etnisnya, termasuk menyelamatkan Rohingya. Sudah menjadi kewajiban. Kalaupun sudah mati, harus diselamatkan,” katanya kepada TRT World. “Kami tidak peduli apakah itu mayat atau hidup, itu sebabnya kami wajib menyelamatkan mereka. Sesuai adat, nelayan yang mengabaikan itu, akan dikenai sanksi. Beberapa nelayan yang dinyatakan bersalah telah dilarang menangkap ikan. Jangka waktu pelarangan tergantung keputusan pengadilan adat.”

Loading...