Akhir Pekan, Rupiah Berbalik Menguat Seiring Kurs Asia

Rupiah - www.harnas.coRupiah - www.harnas.co

JAKARTA – akhirnya mampu keluar dari teritori merah pada Jumat (20/9) sore, ketika mayoritas mata uang bergerak menguat di tengah fokus yang tertuju pada negosiasi antara AS dan China. Menurut catatan Index pada pukul 15.58 WIB, mata uang Garuda ditutup menguat 5 poin atau 0,04% ke level Rp14.055 per AS.

Sementara itu, siang tadi Indonesia menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.085 per dolar AS, menguat 14 poin atau 0,10% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.099 per dolar AS. Di saat yang hampir bersamaan, mayoritas mata uang Asia juga mengungguli , dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,35% menghampiri won Korea Selatan.

Menurut laporan Bloomberg, mata uang Asia sebagian besar menguat pada akhir pekan, dengan fokus tertuju pada pembicaraan antara pejabat AS dan China sebelum diskusi tingkat dimulai pada bulan depan. Sementara itu, China menurunkan suku bunga pinjaman sebagai tanda kondisi moneter masih longgar. Suku bunga pinjaman bank satu tahun ditetapkan pada 4,2% untuk September dari 4,25% pada Agustus.

“Setelah kesibukan keputusan bank sentral minggu ini, perhatian kemungkinan akan beralih ke pembicaraan perdagangan AS-Hina,” papar kepala analis valas di Mizuho Bank, Ken Cheung, dilansir dikutip Bloomberg. “Pelonggaran oleh bank sentral minggu ini agak mengecewakan dan membebani selera aset risiko.”

Dari pasar global, indeks dolar AS cenderung bergerak lebih rendah pada hari Jumat, ketika bank sentral di Swiss dan Inggris ternyata tidak mengikuti langkah Federal Reserve dalam pemotongan suku bunga, di tengah berkurangnya minat investor terhadap aset berisiko seiring kekhawatiran perang dagang AS-China. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,032 poin atau 0,03% ke level 98,240 pada pukul 15.20 WIB.

“Jika Anda melihat dolar Australia atau renminbi China, pamor dolar AS memudar,” ujar ahli strategi mata uang senior di Commonwealth Bank of Australia di Sydney, Joe Capurso, dilansir Reuters. “Saya pikir pelaku pasar akan membutuhkan sesuatu yang konkret untuk benar-benar membuat dolar AS reli, tetapi saat ini tidak ada yang cukup.”

Loading...