Akhir Januari, Rupiah Melonjak Tinggalkan Level Rp14.000

Rupiah - www.aktual.comRupiah - www.aktual.com

JAKARTA – melaju kencang di zona hijau pada Kamis (31/1) sore, memanfaatkan pelemahan yang dialami AS akibat tertekan isyarat dovish dari para pembuat kebijakan Federal Reserve. Menurut paparan Bloomberg Index pada pukul 15.58 WIB, mata uang Garuda mengakhiri Januari dengan penguatan sebesar 158 poin atau 1,12% ke level Rp13.973 per AS.

Sementara itu, Bank siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.072 per , menguat 40 poin atau 0,28% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.112 per . Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang perkasa melawan , dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,71% menghampiri rupiah, disusul won Korea Selatan yang melonjak 0,50%.

Dari , indeks dolar AS memang cenderung bergerak lebih rendah pada hari akhir Januari, setelah Federal Reserve cenderung dovish pada pertemuan kebijakan terbarunya yang berakhir Rabu (30/1) waktu setempat. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,102 poin atau 0,11% menuju level 95,238 pada pukul 13.03 WIB, usai kemarin sudah ditutup terdepresiasi.

“Reaksi responsif oleh The Fed berarti bahwa kemungkinan resesi telah memudar,” tutur kepala strategi pasar di CMC Markets, Michael McCarthy, dilansir Reuters. “Indeks dolar AS bisa mencapai 93,5 jika level dukungan 95 ditembus. Saya berharap mata uang komoditas seperti dolar Aussie, dolar Selandia Baru, dan dolar Kanada melakukan dengan baik.”

Pergerakan greenback memang telah turun, bahkan sebelum putusan rapat The Fed pada hari Rabu, dengan pembuat kebijakan dalam beberapa pekan terakhir mengindikasikan akan mengadopsi pendekatan yang lebih hati-hati. Analis pun berbalik bearish pada dolar AS, karena perang perdagangan AS- dan meningkatnya tekanan pada pertumbuhan global mengancam pengurangan produksi di dalam negeri.

Gubernur The Fed, Jerome Powell, pada hari Rabu mengatakan, kasus untuk kenaikan suku bunga telah ‘melemah’ dalam beberapa pekan terakhir, mengutip ‘arus lintas’ seperti perlambatan pertumbuhan di luar negeri dan penutupan pemerintah AS. Itu berarti bahwa The Fed tidak mungkin mengambil risiko mengerem momentum ekonomi AS, demikian kata para analis.

Loading...