Akhir April, Rupiah KO Jelang Rapat The Fed

Rupiah - www.medanbisnisdaily.comRupiah - www.medanbisnisdaily.com

JAKARTA – Rupiah tidak mampu merangsek ke teritori hijau pada Selasa (30/4) sore, meski indeks dolar AS cenderung bergerak tipis menjelang rapat kebijakan Federal Reserve di tengah pekan ini. Menurut paparan Index pada pukul 15.58 WIB, Garuda melemah 49 poin atau 0,34% ke level Rp14.257 per dolar AS.

Dari , indeks dolar AS cenderung bergerak datar pada hari Selasa, ketika menunggu laporan data manufaktur China terbaru serta data Eropa untuk mengukur denyut nadi secara global. Mata uang Paman Sam terpantau melemah tipis 0,0410 poin atau 0,04% menuju level 97,816 pada pukul 11.20 WIB, setelah dibuka di zona merah.

Seperti diberitakan Reuters, purchasing management index (PMI) China diperkirakan akan bertahan di level 50,5 pada bulan April 2019, setelah bouncing pada bulan sebelumnya. Data yang solid dapat mendukung aset berisiko dan mata uang yang memanfaatkan China, termasuk dolar Australia, sambil menekan aset safe haven seperti yen Jepang.

Di belahan dunia yang lain, angka-angka untuk pertumbuhan ekonomi di Benua Biru juga diamati dengan saksama, yang diprediksi akan menunjukkan kenaikan moderat 0,3% sepanjang kuartal pertama 2019. Pertumbuhan sementara itu dapat menekan spekulan yang telah mengumpulkan posisi pendek untuk euro, senilai 14,8 miliar dolar AS dalam seminggu hingga 23 April.

Rintangan utama untuk dolar AS tetap datang dari pertemuan kebijakan dua hari Federal Reserve yang berakhir akan pada hari Rabu (1/5) waktu setempat, dengan pernyataan dan konferensi pers oleh Gubernur Jerome Powell. Diperkirakan, tidak ada perubahan kebijakan, tetapi pasar ingin mendengar bagaimana Powell menyelesaikan perbedaan antara pertumbuhan ekonomi yang kuat dan yang melambat.

“Akselerasi inflasi inti yang berkelanjutan tetap sulit dipahami dan berkontribusi terhadap ekspektasi inflasi yang rendah,” kata ekonom ANZ Felicity Emmett. “Ini bukan hanya masalah bagi FOMC, tetapi adalah masalah nyata bagi bank sentral utama lainnya. Kami sendiri berharap nada dovish dari bank sentral akan terus berlanjut di masa mendatang, mengingat bukti pemulihan dalam pertumbuhan, ini sangat positif untuk aset berisiko.”

Loading...