3 Tahun Pemerintahan Jokowi-JK, Apa Saja Yang Berhasil Dicapai?

jokowi jk - nasional.harianterbit.com

Jakarta Joko Widodo menandai masa 3 tahun jabatannya pada Jumat (20/10) kemarin. Perhatian pun terfokus pada apakah segala dan -proyek infrastrukturnya berhasil atau tidak. Selama 3 tahun masa jabatannya sebagai presiden, ada beberapa keberhasilan dan kekurangan dari pemerintahan Jokowi.

Hingga tahun 2017 ini Jokowi dinilai mencapai beberapa keberhasilan, misalnya saja mempersempit kesenjangan antara penduduk kaya dan miskin dan Indonesia tumbuh dengan laju yang stabil sekitar 5%, demikian seperti dilansir dari Nikkei. Saat pertama kali menjabat, Jokowi menargetkan pertumbuhan 7%. Pada tahun 2017 ini memiliki target ekonomi 5,4%, namun kenyataannya masih belum memenuhi ekspektasi.

Menurut Badan Koordinasi Penanaman Modal, jumlah dana yang disalurkan untuk investasi hingga Juni 2017 di Indonesia hanya mencapai Rp 1,6 kuadriliun. Padahal pemerintah merencanakan untuk menginvestasikan total Rp 3,7 kuadriliun yang berasal dari sektor publik dan swasta untuk proyek prioritas nasional selama 5 tahun masa jabatan Jokowi.

Kekurangan pendanaan untuk segala proyek-proyek strategis itulah yang bermasalah. Salah satu proyek kereta cepat Indonesia-China hingga kini belum ada kemajuan karena kekurangan dana. Padahal upacara peletakan batu pertama telah dilakukan sejak Januari 2016 lalu. Kemudian proyek lain yang juga dinilai mangkrak adalah pembangkit tenaga . Pemerintah berencana membangun pembangkit yang menghasilkan 35 juta KW. Namun sampai saat ini pemerintah hanya berhasil membangun 40% pembangkit dan sisanya masih dalam .

Indonesia sendiri tak kesulitan mengumpulkan dana dari pasar internasional. Setidaknya pada Juli 2017 lalu pemerintah berhasil mengumpulkan 2 miliar dolar AS dari pasar obligasi. Sayangnya pemerintah kesulitan mengumpulkan lebih banyak uang karena adanya undang-undang yang membatasi defisit anggaran maksimum sebesar 3% dari PDB untuk menjaga disiplin fiskal. Sementara itu, defisit anggaran tahun ini akan mencapai 2,9%.

Kemudian yang dinilai masih minus adalah dari sektor rasio penerimaan . “Kalau zaman sebelumnya, Pak SBY 12 persen-an, bahkan di era Soeharto bisa 13,4 persen misalnya. Di zaman Jokowi selama tiga tahun itu relatif di bawah 11 persen,” ujar Koordinator Divisi Riset ICW, Firdaus Ilyas.

Berdasarkan data dari Indonesia Corruption Watch (ICW) rasio penerimaan pajak terus turun selama 3 tahun pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla, dari 11,9% pada 2014, turun jadi 10,9% tahun 2015, dan turun lagi ke angka 10,3% pada 2016. “Artinya, dalam rentang waktu dua tahun tersisa, apakah mungkin pemerintah bisa mengejar target rasio pajak menjadi 16 persen?” katanya.

Terlepas dari itu semua, sosok Jokowi tetap populer di mata masyarakat karena ia juga fokus untuk mengembangkan daerah seperti Papua Nugini dan pulau-pulau terpencil selain Jawa. Kebijakan lain yang juga dinilai positif dari pemerintah Jokowi adalah pemotongan subsidi bensin yang dianggap hanya menguntungkan kelas menengah dan mengalihkan dana tersebut untuk pembangunan infrastruktur. Kebijakan itu menurut pemerintah telah membuat koefisien Gini Indonesia turun menjadi 0,397 pada 2016 dari 0,414 pada 2014. Rasio kemiskinan di Indonesia juga turun 0,2 poin persentase sepanjang tahun lalu.

Loading...